Selasa, 26 Oktober 2021

TAHUKAH KAMU? PERISTIWA SUMPAH PEMUDA PENGGAGAS BAHASA PERSATUAN INDONESIA

 

TAHUKAH KAMU? PERISTIWA SUMPAH PEMUDA PENGGAGAS BAHASA PERSATUAN INDONESIA



Sejarah pergerakan di Indonesia yang dimotori oleh para pemuda dimulai pada tahun 1908 yang diawali oleh organisasi Budi Utomo. Pada awalnya organisasi ini didukung oleh para golongan tua, yaitu cita-cita dari seorang dokter untuk membentuk suatu organisasi yang bersifat pergerakan di tanah Jawa pada saat itu. Pelopor pergerakan tersebut adalah M. Wahidin Sudiro Husodo, sebagaimana yang dijelaskan oleh Fajar dalam bukunya Memaknai Kemerdekaan berikut ini:

Budi Utomo adalah organisasi modern yang pertama didirikan oleh Indonesia. Organisasi ini didirikan oleh dr. Sutomo pada 20 Mei 1908 di Jakarta. Budi Utomo lahir dari pertemuan-pertemuan dan diskusi yang sering dilakukan oleh beberapa mahasiswa STOVIA (School Tol Opleiding van Indische Arsten = Sekolah Dokter Pribumi). Berdirinya Budi Utomo berawal dari gagasan dr. Wahidin Sudirohusodo yang ingin mengangkat kehormatan rakyat Jawa dengan memberikan pengajaran dan menghimpun dana beasiswa (study fond) untuk memberikan pendidikan modern kepada golongan priyayi (Fajar, 2009: 13-14).

 Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Budi Utomo merupakan suatu organisasi perhimpunan pemuda pertama yang ada di Indonesia yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 oleh M. Wahidin Sudiro Husodo, dengan tujuan untuk membangkitkan semangat nasionalisme dan patriotisme para pemuda-pemuda di Indonesia untuk menghapuskan kolonialisme yang ada di Nusantara.

Dasar dari pergerakan di Indonesia tidak terlepas dari Budi Utomo yang dibentuk pada tanggal 20 Mei 1908. Atas dasar asas inilah yang memicu dr. R. Satriman Wiryosandjoyo, Kadarman, dan Sunardi serta pemuda lainnya mendirikan perkumpulan pemuda. Perkumpulan tersebut diberi nama Tri Koro Dharmo (Tiga tujuan mulia, yaitu sakti, budhi, dan bakti) merupakan perkumpulan pemuda pertama di Indonesia. Sumpah Pemuda sendiri terjadi akibat pada tahun 1915 terbentuknya “organisasi kepemudaan seperti Tri Koro Dharmo yang kemudian menjadi Jong Java (1915), Jong Sumatera Bond (1917), Jong Islamieten Bond (1924), Jong Batak, dan Pemuda Kaum Betawi, akan tetapi sifat dari pergerakan organisasi tersebut masih bersifat kedaerahan” (Hermawan dan Sukanda, 2009: 52). Sifat kedaerahan tersebut berubah setelah adannya gagasan persatuan di kalangan organisasi pemuda. Usaha persatuan tersebut terjadi setelah perkembangan pergerakan nasional yang menuntut satu kesatuan bersama. Hal ini dikarenakan pada sifat pergerakan kedaerahan tersebut banyak terjadi kegagalan yang terjadi di setiap daerahnya.

Usaha untuk mempersatukaan organisasi pemuda tersebut terwujud setelah terlaksanannya “Kongres Pemuda Indonesia I pada tanggal 30 April-2 Mei 1926 di Jakarta. Perintis terselenggaranya kongres ini adalah sebuah komite yang diketuai oleh Muhammad Tabrani dan anggotannya yang terdiri atas Bahdar Djohan, Sumarto, Jan Toule, Soulehuwij, dan Paul Pinonrtoan” (Fajar, 2009: 24). Terwujudnya kongres pemuda ini memiliki tujuan menanamkan semangat kebangsaan dikalangan para organisasi-organisasi kepemudaan yang ada di Indonesia pada saat itu. Dari hasil Kongres Pemuda Indonesia I tercetusnya gagasan untuk melanjutkan kongres tersebut. Pada Kongres Pemuda Indonesia II pada tanggal 28 Oktober 1928 dicapai sebuah kesepakatan untuk membentuk sebuah badan fusi dari semua organisasi pemuda dan sebuah pernyataan ikrar Pemuda Indonesia yang kita kenal dengan sebutan Sumpah Pemuda, yaitu satu nusa dan satu bangsa dan satu bahasa.



ASAL USUL BAHASA INDONESIA

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Dari sudut pandang linguistik, bahasa Indonesia adalah sebuah variasi dari bahasa Melayu. Pada zaman Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7 Masehi), bahasa Melayu (bahasa Melayu Kuno) dipakai sebagai bahasa kenegaraan. Hal itu dapat diketahui, dari empat prasasti berusia berdekatan yang ditemukan di Sumatra bagian selatan peninggalan kerajaan tersebut. Prasati tersebut di antaranya adalah prasasti di Kedukan Bukit berangka tahun 683 M (Palembang), Talang Tuwo berangka tahun 684 M (Palembang), Kota Kapur berangka tahun 686 M (Bangka Barat), dan Karang Brahi berangka tahun 688 M (Jambi). Prasasti itu bertuliskan huruf Pranagari berbahasa Melayu Kuno. Pada saat itu, bahasa Melayu yang digunakan bercampur kata-kata bahasa Sanskerta. Sebagai penguasa perdagangan, di Kepulauan Nusantara, para pedagangnya membuat orang-orang yang berniaga terpaksa menggunakan bahasa Melayu walaupun dengan cara kurang sempurna. Hal itu melahirkan berbagai varian lokal dan temporal pada bahasa Melayu yang secara umum dinamakan bahasa Melayu Pasar oleh para peneliti. Penemuan prasasti berbahasa Melayu Kuno di Jawa Tengah (berangka tahun abad ke-9) dan prasasti di dekat Bogor (Prasasti Bogor) dari abad ke-10 menunjukkan penyebaran penggunaan bahasa itu di Pulau Jawa. Penemuan keping tembaga Laguna di dekat Manila, Pulau Luzon, berangka tahun 900 Masehi juga menunjukkan keterkaitan wilayah tersebut dengan Sriwijaya.Pada abad ke-15 berkembang bentuk yang dianggap sebagai bentuk resmi bahasa Melayu karena dipakai oleh Kesultanan Malaka, yang kelak disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi. Penggunaanya terbatas di kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatra, Jawa, dan Semenanjung Malaya. Kemudian, Malaka merupakan tempat bertemunya para nelayan dari berbagai negara dan mereka membuat sebuah kota serta mengembangkan bahasa mereka sendiri dengan mengambil kata-kata yang terbaik dari bahasa di sekitar daerah tersebut. Kota Malaka yang posisinya sangat menguntungkan (strategis) menjadi bandar utama di kawasan Asia Tenggara. Bahasa Melayu menjadi bahasa yang paling sopan dan paling tepat di kawasa timur jauh. Ejaan resmi bahasa Melayu pertama kali disusun oleh Ch. A. van Ophuijsen yang dibantu oleh Moehammad Taib Soetan Ibrahim dan Nawawi Soetan Ma’moer yang dimuat dalam kitab Logat Melayu pada tahun 1801.



SUMPAH PEMUDA SEBAGAI CIKAL BAKAL LAHIRNYA  BAHASA PERSATUAN INDONESIA

Pada zaman penjajahan Belanda pada awal abad-20, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda melihat pegawai pribumi memiliki kemampuan memahami bahasa Belanda yang sangat rendah. Hal itu yang menyebabkan pemerintah kolonial Belanda ingin menggunakan bahasa Melayu untuk mempermudah komunikasi, yakni dengan patokan bahasa Melayu Tinggi yang sudah mempunyai kitab-kitab rujukan.

Sarjana Belanda mulai membuat standarisasi bahasa, mereka mulai menyebarkan bahasa Melayu yang mengadopsi ejaan Van Ophusijen dari Kitab Logat Melayu. Penyebaran bahasa Melayu secara lebih luas lagi dengan dibentuknya Commissie voor de Volkslectuur (Komisi Bacaan Rakyat) pada tahun 1908. Pada 1917 namanya diganti menjadi Balai Poestaka. Badan penerbit ini menerbitkan novel-novel, seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas.Pada 16 Juni 1927, saat sidang Volksraad (Rapat Dewan Rakyat), Jahja Datoek Kajo pertama kalinya menggunakan bahasa Indonesia dalam pidatonya. Di sinilah bahasa Indonesia mulai berkembang. Pada 28 Oktober 1928, Muhammad Yamin mengusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional dalam pidatonya pada Kongres Nasional kedua. Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai "bahasa persatuan bangsa" pada saat Sumpah Pemuda.

Muhammad Yamin berkata, "Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan, yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Namun, dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa persatuan." Tahun 1933 berdiri sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya sebagai Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Tiga tahun kemudian, Sutan Takdir Alisyahbana menyusun “Tata bahasa Baru Bahasa Indonesia”. Pada tanggal 25-28 Juni 1938 dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Kongres tersebut menghasilkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu.Pada 18 Agustus 1945, sehari setelah kemerdekaan, ditandatanganilah Undang-Undang Dasar 1945. Pada Bab XV, Pasal 36, ditetapkan secara sah bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa negara.

Adapun fase bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang ditandai dengan Ejaan van Ophuijsen dan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo, fase bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara yang ditandai adanya UUD 1945, Kongres Bahasa Indonesia II di Medan, Ejaan Suwandi, Ejaan yang disempurnakan, Seminar Politik Bahasa Nasional (1975), Seminar Politik Bahasa (1999).



 

DAFTAR RUJUKAN

Woring,M Chesar. 2020."SUMPAH PEMUDA MERUPAKAN CIKAL BAKAL TERCETUSNYA BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA PERSATUAN 1928-1954 (SUATU TINJAUAN HISTORIS)". Skripsi. Palembang: Universitas Muhammadiyah Palembang

Putrayasa, I Gusti Ngurah Ketut. 2018."Sejarah Bahasa Indonesia". Makalah. Bali: Universitas Udayana

INFOGRAFIS ALUR PERISTIWA SEJARAH SUMPAH PEMUDA

  Menariknya Sejarah peristiwa sumpah pemuda wujud solidnya pemuda Indonesia sedari dulu Halo sobat readers mungkin dari kalian belum pada t...